cinta, keindahan, kesunyian
Nasihat jiwaku
jiwaku berkata padaku dan menasihatiku,
agar mencintai semua orang yang membenciku
dan berteman dengan memfitnahku.
jiwaku menasihatiku dan mengungkapkan kepadaku,
bahwa cinta tidak hanya menghargai orang yang mencintai,
tapi juga orang yang dicintai.
sejak saat itu,
bagiku cinta ibarat jaring laba-laba di antara dua bunga,
mendekatkan satu sama lain,
menjadi lingkaran cahaya tanpa awal dan akhir.
melingkari apa yang telah ada,
dan memupuk selamanya untuk merengkuh yang akan hadir.
jiwaku menasihatiku dan berkata,
bahwa semuanya dilakukan cinta,
hingga aku mengetahui rahasia hatiku sendiri
dan dalam pengetahuan itu aku akan menjadi bagian dari kehidupan.
akan lebih baik bagiku untuk tidak membiarkan rasa takut bersarang
serta menjadikan cinta menjadi tempat mencari senang.
jiwaku menasihati dan berkata,
bahwa cinta tidak memberikan apapun kecuali dirinya sendiri
dan tidak meminta apapun selain cinta itu sendiri.
ia tidak memiliki dan tidak dimiliki karna cinta hanya untuk cinta.
jiwaku menasihatiku dan memintaku untuk tidak berkata
"Tuhan ada dalam hatiku"
tetapi
"aku ada dalam hati Tuhan",
ketika aku mencinta.
Jiwaku menasihatiku dan berkata,
bahwa bila aku terluka oleh pemahamanku tentang cinta,
tetaplah pulang dengan bersyukur sepenuh hati.
lalu beranjak tidur dengan sepotong doa
dan sebait lagu pujian untuk yang tercinta dibibirku.
jiwaku menasihatiku dan memerintahku untuk melihat,
bahwa cinta yang membuatku ada, bukan berasal dari diriku sendiri;
bahwa cahaya yang kubawa bukanlah cahayaku;
bahwa laguku tidak dicipta dalam diriku,
karena meski aku berjalan dalam cahaya.
dan meskipun aku kecapi yang dikencangkan oleh dawai-dawaiku,
aku bukanlah pemain kecapi.
jiwaku menasihatiku, saudaraku dan menerangiku …
dan seringkalli menasihati serta menerangimu juga
karena engkau seperti diriku,
dan tak ada beda tentang cinta diantara kita …
–diambil dari karangan Kahlil Gibran–